Kampung di atas laut, Kota Tua Penagi

Hasil gambar untuk Kampung di atas laut, Kota Tua Penagi

Penagi adalah sebuah perkampungan unik yang berada di atas Laut Natuna, Kepulauan Riau. Pada masa lalu, Kampung Penagi merupakan kampung pelabuhan yang amat ramai. Begini sudut-sudutnya!

Kampung Penagi dulunya merupakan pusat ekonomi masyarakat di Kabupaten Natuna sebelum masa reformasi dan masih dalam wilayah Kabupaten Kepulauan Riau, seiring dengan terbentuknya Kabupaten Natuna tahun 1999 dengan ibukota Ranai, perlahan tapi pasti terjadi pergeseran pusat ekonomi ke Ranai sebagai ibukota Kabupaten Natuna.

Jauh sebelum kemerdekaan RI, Pelabuhan Penagi merupakan pintu masuk ke pulau Bunguran dan kapal-kapal dagang yang melintas Laut China Selatan, akan singgah ke Penagi sebelum menlanjutkan perjalanan ke kawasan lain.


Saking sibuknya aktivitas bongkar muat dan labuh jangkar di pelabuhan ini dari kapal-kapal dagang dan penumpang, menjadikan desa nelayan ini sebagai pusat dagang di perairan Laut China Selatan.

Penagi muncul menjadi perkampungan dagang yang lengkap banyak menyediakan berbagai kebutuhan hidup baik kedai yang menyediakan barang kelontong, kedai kain, kedai "runcit" (sembako), kedai kopi juga tempat hiburan malam.

Hasil gambar untuk Kampung di atas laut, Kota Tua Penagi

Seiring waktu, perkampungan nelayan ini makin ramai tidak hanya dihuni orang Melayu sebagai suku asli Pulau Bunguran tetapi juga warga China yang datang dengan kapal "toa ko" (kapal besar) dari China daratan. Rombongan warga China ini ada yang menetap di Penagi ada juga melanjutkan perjalanan ke Sedanau dan Pulau Midai.

Ramainya Pelabuhan Penagi selain letaknya yang strategis memiliki alur laut yang dalam juga diapit Pulau Kemudi dan Pulau Jantai sehingga laut di perairan Penagi tenang.

Ombak musim Utara yang biasanya besar dan ditakuti kapal-kapal dagang dan penumpang,  tidak pernah masuk ke pelabuhan Penagi.

Kemakmuran Penagi sebagai kawasan pelabuhan amat dirasakan masyarakat bahkan jejak kemakmuran itu hingga kini masih dapat terlihat dari rumah-rumah penduduk yang berada di kampung Penagi.

Setelah Natuna menjadi Kabupaten, dan pusat perdagangan pindah ke Ranai sebagi ibukota Kabupaten, maka Kampung Penagi yang dulunya ramai dan sibuk dengan aktivitas perdagangan akhirnya ditinggalkan warganya. Bahkan tauke-tauke kaya juga pindah dari Penagi.

Dalam masa otonomi sekarang Ranai makin ramai dan tumbuh sebagai pusat ekonomi dan perdagangan. Jarak Penagi dengan Ranai hanya lima kilometer yang dipisahkan lapangan terbang pangkalan TNI AU.

Kini, kampung tua dengan ratusan rumah panggung di atas air itu telah sunyi. Tidak ada lagi kedai kelontong, kedai kain, kedai runcit atau kedai kopi dan bongkat muat kapal dagang dan penumpang.

Hasil gambar untuk Kampung di atas laut, Kota Tua Penagi

Dibangunnya pelabuhan Selat Lampa yang semula bertujuan untuk menampung minyak  Pertamina, juga ikut membuat sepi kampung Penagi. Kapal dagang dan kapal penumpang seperti Pelni pindah ke Pelabuhan Selat Lampa.

Walaupun suasana Penagi sudah berubah, namun kerukunan masyarakatnya tidak berubah. Dari dulu masyarakat Melayu dan China di Penagi hidup rukun damai ditandai dengan rumah ibadah yang berdampingan, yakni Kelenteng Pu Tek Chi dan Surau Al Mukoramah.

Meskipun saat ini, Kampung Penagi bukan lagi menjadi pusat perekonomian Natuana, tetapi perpaduan antarsuku dan tempat ibadah yang saling berdekatan di Kampung Penagi, telah menjadi cermin toleransi antar warga tidak hanya di Kabupaten Natuna yang berjuluk Negeri di Gerbang Utara tapi juga secara keseluruhan di lintas Laut China Selatan.

 

Sumber          : https://travel.detik.com/

Kunjungi juga : http://blog.setrip.id/