Menikmati Percikan dan Suasana Pagi Air Terjun Batang Kapas

Air Terjun Batang Kapas

Pagi mulai menyapa di bawah kaki Bukit Barisan. Sinar mentari mulai menembus rimbunnya dedaunan di kawasan bernama Lubuk Bigau itu. Gemuruh air terjun dan sahutan suara satwa saling beriring membangunkan sejumlah orang yang mendirikan tenda.

Berpuluh kilometer menempuh jalan terjal terbayarkan saat mendengar desiran air terjun Batang Kapas yang diklaim tertinggi di Pulau Sumatera itu. Lokasinya di Desa Lubuk Bigau, Kenegerian Pangkalan Kapas, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, kian menegaskan Kabupaten Kampar sebagai negerinya seribu air terjun.

Dinas Pariwisata Provinsi Riau bekerjasama dengan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Kampar gencar mempromosikan Lubuk Bigau sebagai destinasi alternatif akhir pekan. Tentunya tidak semua golongan, khususnya bagi kalangan penyuka pertualangan.

"Kalau stamina gak cukup, gak direkomendasikan," kata Ketua GenPI Kampar, Dody RA memulai pembicaraan,

Hasil gambar untuk air terjun batang kapas

Dia menceritakan, Lubuk Bigau kalau dari arah Kota Pekanbaru harus melewati Desa Lipat Kain. Perjalanannya ke lokasi ini butuh sekitar satu setengah jam. Dari desa ini, pelancong disarankan lebih baik berjalan kaki.

Kendaraan bermotor seperti mobil bisa menjadi pilihan, tapi tidak dengan sepeda motor. Jarak ke Desa Lubuk Bigau memang hanya 61 kilometer lebih kurang, tapi bisa memakan waktu hingga empat jam.

"Kalau hujan seperti sekarang ini, bisa lebih empat jam. Jalan tanah berubah jadi lumpur, banyak yang terjal karena perbukitan," kata pria yang juga giat di Seni Bengkel Riau ini.

Selama perjalanan, wisatawan akan terbawa dengan suara alam. Hutan adalah penyajinya karena burung dan serangga yang jarang ditemui di kota saling bersahutan seolah memberi kabar ada tamu datang.

Dia menceritakan, Lubuk Bigau kalau dari arah Kota Pekanbaru harus melewati Desa Lipat Kain. Perjalanannya ke lokasi ini butuh sekitar satu setengah jam. Dari desa ini, pelancong disarankan lebih baik berjalan kaki.

Kendaraan bermotor seperti mobil bisa menjadi pilihan, tapi tidak dengan sepeda motor. Jarak ke Desa Lubuk Bigau memang hanya 61 kilometer lebih kurang, tapi bisa memakan waktu hingga empat jam.

Mendaki bebatuan merupakan hal yang tak bisa dihindari. Salah langkah, apalagi kalau sebelumnya turun hujan, siap-siap saja tergelincir kalau langkah tak cekatan.

"Bisa dilihat sendiri, banyak bebatuan cadas dan berbukitan. Kalau sekarang sudah mendingan, dulu belum ada jalan aspal yang dibangun di sini," kisah Dody.

Tak hanya bebatuan, wisatawan selama perjalanan bisa melihat kayu-kayu besar berusia ratusan tahun. Tidak adanya pembalakan liar serta kecintaan masyarakat di sana menjaga alamnya, membuat pohon-pohon itu masih terjaga sampai sekarang.

Hasil gambar untuk air terjun batang kapas

Sebagai tanda sudah dekat ke lokasi, desiran arus sungai serta gemuruh air terjun memecah bebatuan di bawahnya terdengar di telinga. Wisatawan pun tinggal memilih di mana akan membangun tenda untuk bermalam.

"Pertama di sini, tempat air persis jatuh. Hanya saja jaraknya perlu dijaga sekitar 50 meter. Sebab radius 30 meter, percikan air terjun akan sampai ke tenda," sebut Dody.

Bagi wisatawan yang suka memanjat tebing, posisi di tengah air terjun ada juga. Ada celah di tengahnya sehingga wisatawan bisa membuat tenda untuk menginap.

Berikutnya, tambah Dody, ada posisi paling atas berada persis di bibir air terjun. Hanya saja, wisatawan harus memutar untuk sampai ke atasnya sehingga memakan waktu lebih lama.

"Dan cukup berbahaya karena harus memanjat batuan. Tinggi air terjun ini 150 meter, kira-kira segitu juga harus naiknya, bisa lebih," terang Dody.

Biasanya, sebut Dody, wisatawan sengaja menginap di lokasi. Kebanyakan dari mereka ingin menikmati suasana alam di pagi hari karena burung dan satwa berbunyi lainnya banyak keluar saat mentari menjelang.

Hasil gambar untuk air terjun batang kapas

"Kalau udah sampai ke sini, tak rugi," tegas Dody.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Riau Fahmizal Usman, menyebut air terjun ini sebagai anugerah Sang Pencipta yang tersimpan di Riau. Wisatawan disebutnya akan dimanjakan dengan suasana menakjubkan.

"Masyarakat Riau harus bersyukur dan bangga. Destinasi ini adalah surga tersembunyi bagi wisatawan yang memilki jiwa petualang," kata Fahmizal.

Dia menyatakan, Air Terjun Batang Kapas sangat cocok dikembangkan sebagai ekowisata. Hal ini aksesibilitas dari Desa Lubuk Bigau ke air Terjun Batang Kapas masih kawasan hutan.

Bagi traveler berminat mengunjungi surga tersembunyi ini, Fahmizal menyarankan membawa peralatan adventure yang memadai dan wajib didampingi kelompok sadar wisata setempat.

"Biayanya Rp 200 ribu rupiah per orang. Biaya ini sudah termasuk makan dan minum dan jasa pramuantar (porter) selama 2 hari," sebut Fahmizal.

 

 

Sumber         : https://www.liputan6.com/

kunjungi juga : http://blog.setrip.id/